Setelah berbulan-bulan tidak menulis, aku memutuskan
untuk menulis lagi. Sebenernya..……..bukan berbulan-bulan tidak menulis sih, aku
menulis tapi bukan tulisan yang bisa dibagikan ke public, melainkan untuk
konsumsi sendiri. Anyway kali ini aku memutuskan menulis lagi karena otakku
beberapa kali podcast sendirian, waktu sepulang kerja, berangkat kuliah,
sepulang kuliah, bahkan kadang saat aku lagi santai-santainya dia malah podcast
sendirian.
Jadi…… kali ini aku mau menulis tentang patah hati.
Sepertinya kebanyakan orang hari ini memaknai patah hati adalah putus dari
pasangan. Kalau menurut John Bowlby, salah satu tokoh psikologi
dalam Teori Kelekatan / Attachment Theory, Patah
hati merupakan reaksi emosional yang muncul ketika individu kehilangan hubungan
emosional yang memiliki makna kelekatan (attachment), yang ditandai dengan
kesedihan mendalam, kecemasan, dan distress psikologis. Jadi Pak Bowlby ini
memandang patah hati sebagai respon kehilangan terhadap figur kelekatan. Semakin besar kelekatan kita dengan
sesuatu tersebut, semakin besar reaksi emosional yang muncul saat sesuatu itu hilang.
Kalau dari penjelasan Ngaji Filsafat oleh Dr.
Fahruddin Faiz yang merupakan salah satu dosen di Program studi Aqidah dan
Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, patah hati itu diartikan sebagai segala
sesuatu yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Jadi, nggak hanya
persoalan putus dari pasangan saja. Ditinggal orang-orang terdekat untuk
selama-lamanya, rencana liburan gagal karena pekerjaan/pendidikan, saat ingin
membeli nasi goreng ternyata sesampainya disana warung tutup, tidak ada tanggal
merah dalam satu bulan penuh dikalender, dihari libur kita tetap bekerja
padahal teman-teman liburan, para pelaku kekerasan seksual dibebaskan secara cuma-cuma,
uang negara banyak dikorupsi, hutan-hutan digunduli pemerintah dan malah diganti
sawit(Ehhh……….). Itu semua adalah bentuk patah hati, hanya saja yang membedakan
adalah intensitas rasa sakit yang dirasakan. Yaa…..seperti kata Pak Bowlby
tadi.
Dalam pandangan Psikologi sendiri, patah hati itu ada tahapan
nya. Nah tahapan patah hati ini seringkali mengikuti model duka
cita oleh Elisabeth Kübler-Ross, yaitu Penyangkalan (Denial), Kemarahan
(Anger), Tawar-menawar (Bargaining), Depresi (Depression), dan Penerimaan
(Acceptance). Pada tahap pertama yaitu Denial ini, manusia nya akan
sulit menerima kenyataan bahwa sesuatu itu telah berakhir/hilang. Difase awal
ini tuh, biasanya manusia ini bakal yapping untuk melindungi diri dari syok
emosional yang terlalu berat. Kemudian Tahap kedua yaitu muncul kemarahan
pada manusia ini tadi, kemarahan tadi biasanya diarahkan ke orang yang sudah
pergi, diri sendiri, dan bisa juga keadaan atau orang lain yang bahkan tidak
ada sambung-menyambungnya dengan apa yang dia alami.(Mungkin bahasanya sekarang
tantrum). Tahap ini tuh menunjukkan kalau emosi si manusia ini mulai diproses
secara aktif.
Kemudian
tahap ketiga yaitu Tawar-menawar (Bargaining). Di tahap ini si manusianya
mencoba “bernegosiasi” secara mental atau emosional dengan diri sendiri atau dengan
mereka yang sudah pergi. Sama nih….ditahap ini mereka bakalan yapping lagi seperti
contohnya, “Kalau aku berubah, mungkin dia Kembali”. Diotaknya biasanya mengulang-ulang
skenario “seandainya” dengan disertai rasa bersalah dan penyesalan. Kemudian
tahap keempat Depresi (Sadness/Despair). Tahap ini adalah tahap paling
berat secara emosional. Biasanya mereka akan mengalami Kesedihan mendalam, kehilangan
minat, menarik diri dari lingkungan. Tahap Ini adalah proses kesedihan
yang normal, bukan selalu gangguan depresi klinis. Dan tahap final
adalah Penerimaan (Acceptance). Pada tahap ini Individu mulai menerima
kenyataan dan menata kembali hidupnya. Tahap ini tuh biasanya otak manusia bisa
berfungsi normal dan biasanya Emosi mereka lebih stabil, mampu melihat makna
dari pengalaman, mulai membuka diri pada masa depan. Ini bukan berarti lupa,
tapi tidak lagi dikuasai oleh rasa sakit. Kalau orang-orang jawa biasa
menyebutnya legowo dan nerimo.
Dan…..Itu
tadi adalah tahapan patah hati menurut Elisabeth Kübler-Ross. Tapi tahapan
patah hati itu tidak bersifat paten dan tetap. Ia tidak bersifat konstan, bisa
naik turun, dan bisa saja setelah ditahap depresi, kita kembali lagi ketahap
denial, dan bisa juga tiba-tiba melompat langsung pada perasaan legowo dan
nerimo tergantung pada individu masing-masing. Patah hati yang mungkin pernah
dan sedang kita rasakan itu valid dan tidak salah. Kalau katanya Dr. Fahruddin Faiz dalam ngaji filsafat,
Patah hati itu salah satu bagian dari scenario Tuhan sebagai ujian manusia yang
hidup di Bumi ini. Dan katanya lagi energi patah hati itu luar biasa, eman-eman
kalau digunakan untuk hal yang tidak bermanfaat. Oke baik… mungkin sampai disini
dulu saya menulis. Seperti biasanya besok-besok lagi kalau tidak mengantuk😊. Terima kasih untuk teman-teman yang meluangkan waktu
dan energi nya untuk membaca, semoga sehat dan berbahagia selalu.
