Rabu, 24 Desember 2025

Menghadapi Patah Hati

 

Salah satu patah hatinya rakyat indonesia melihat petinggi-petinggi negara

Setelah berbulan-bulan tidak menulis, aku memutuskan untuk menulis lagi. Sebenernya..……..bukan berbulan-bulan tidak menulis sih, aku menulis tapi bukan tulisan yang bisa dibagikan ke public, melainkan untuk konsumsi sendiri. Anyway kali ini aku memutuskan menulis lagi karena otakku beberapa kali podcast sendirian, waktu sepulang kerja, berangkat kuliah, sepulang kuliah, bahkan kadang saat aku lagi santai-santainya dia malah podcast sendirian.

Jadi…… kali ini aku mau menulis tentang patah hati. Sepertinya kebanyakan orang hari ini memaknai patah hati adalah putus dari pasangan. Kalau menurut John Bowlby, salah satu tokoh psikologi dalam Teori Kelekatan / Attachment Theory, Patah hati merupakan reaksi emosional yang muncul ketika individu kehilangan hubungan emosional yang memiliki makna kelekatan (attachment), yang ditandai dengan kesedihan mendalam, kecemasan, dan distress psikologis. Jadi Pak Bowlby ini memandang patah hati sebagai respon kehilangan terhadap figur kelekatan. Semakin besar kelekatan kita dengan sesuatu tersebut, semakin besar reaksi emosional yang muncul saat sesuatu itu hilang.

Kalau dari penjelasan Ngaji Filsafat oleh Dr. Fahruddin Faiz yang merupakan salah satu dosen di Program studi Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, patah hati itu diartikan sebagai segala sesuatu yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Jadi, nggak hanya persoalan putus dari pasangan saja. Ditinggal orang-orang terdekat untuk selama-lamanya, rencana liburan gagal karena pekerjaan/pendidikan, saat ingin membeli nasi goreng ternyata sesampainya disana warung tutup, tidak ada tanggal merah dalam satu bulan penuh dikalender, dihari libur kita tetap bekerja padahal teman-teman liburan, para pelaku kekerasan seksual dibebaskan secara cuma-cuma, uang negara banyak dikorupsi, hutan-hutan digunduli pemerintah dan malah diganti sawit(Ehhh……….). Itu semua adalah bentuk patah hati, hanya saja yang membedakan adalah intensitas rasa sakit yang dirasakan. Yaa…..seperti kata Pak Bowlby tadi.

Dalam pandangan Psikologi sendiri, patah hati itu ada tahapan nya. Nah tahapan patah hati ini seringkali mengikuti model duka cita oleh Elisabeth Kübler-Ross, yaitu Penyangkalan (Denial), Kemarahan (Anger), Tawar-menawar (Bargaining), Depresi (Depression), dan Penerimaan (Acceptance). Pada tahap pertama yaitu Denial ini, manusia nya akan sulit menerima kenyataan bahwa sesuatu itu telah berakhir/hilang. Difase awal ini tuh, biasanya manusia ini bakal yapping untuk melindungi diri dari syok emosional yang terlalu berat. Kemudian Tahap kedua yaitu muncul kemarahan pada manusia ini tadi, kemarahan tadi biasanya diarahkan ke orang yang sudah pergi, diri sendiri, dan bisa juga keadaan atau orang lain yang bahkan tidak ada sambung-menyambungnya dengan apa yang dia alami.(Mungkin bahasanya sekarang tantrum). Tahap ini tuh menunjukkan kalau emosi si manusia ini mulai diproses secara aktif.

Kemudian tahap ketiga yaitu Tawar-menawar (Bargaining). Di tahap ini si manusianya mencoba “bernegosiasi” secara mental atau emosional dengan diri sendiri atau dengan mereka yang sudah pergi. Sama nih….ditahap ini mereka bakalan yapping lagi seperti contohnya, “Kalau aku berubah, mungkin dia Kembali”. Diotaknya biasanya mengulang-ulang skenario “seandainya” dengan disertai rasa bersalah dan penyesalan. Kemudian tahap keempat Depresi (Sadness/Despair). Tahap ini adalah tahap paling berat secara emosional. Biasanya mereka akan mengalami Kesedihan mendalam, kehilangan minat, menarik diri dari lingkungan. Tahap Ini adalah proses kesedihan yang normal, bukan selalu gangguan depresi klinis. Dan tahap final adalah Penerimaan (Acceptance). Pada tahap ini Individu mulai menerima kenyataan dan menata kembali hidupnya. Tahap ini tuh biasanya otak manusia bisa berfungsi normal dan biasanya Emosi mereka lebih stabil, mampu melihat makna dari pengalaman, mulai membuka diri pada masa depan. Ini bukan berarti lupa, tapi tidak lagi dikuasai oleh rasa sakit. Kalau orang-orang jawa biasa menyebutnya legowo dan nerimo.

Dan…..Itu tadi adalah tahapan patah hati menurut Elisabeth Kübler-Ross. Tapi tahapan patah hati itu tidak bersifat paten dan tetap. Ia tidak bersifat konstan, bisa naik turun, dan bisa saja setelah ditahap depresi, kita kembali lagi ketahap denial, dan bisa juga tiba-tiba melompat langsung pada perasaan legowo dan nerimo tergantung pada individu masing-masing. Patah hati yang mungkin pernah dan sedang kita rasakan itu valid dan tidak salah. Kalau katanya Dr. Fahruddin Faiz dalam ngaji filsafat, Patah hati itu salah satu bagian dari scenario Tuhan sebagai ujian manusia yang hidup di Bumi ini. Dan katanya lagi energi patah hati itu luar biasa, eman-eman kalau digunakan untuk hal yang tidak bermanfaat. Oke baik… mungkin sampai disini dulu saya menulis. Seperti biasanya besok-besok lagi kalau tidak mengantuk😊. Terima kasih untuk teman-teman yang meluangkan waktu dan energi nya untuk membaca, semoga sehat dan berbahagia selalu.

Menghadapi Patah Hati

  Salah satu patah hatinya rakyat indonesia melihat petinggi-petinggi negara Setelah berbulan-bulan tidak menulis, aku memutuskan untuk menu...