Biarkan yang Berduka untuk Berduka Seumur hidup
Hari ini adalah 2 bulan Ibu berpulang ke-pangkuan
Tuhan. Kedukaan masih menyelimuti hari-hariku. Senormalnya orang berduka, aku
masih sering menangis. Entah hanya sekedar melihat minuman botol yang mungkin
bagi beberapa orang tidak memiliki arti, atau hanya sekedar memakan buah.
Apapun itu aku masih berduka, dan akan berduka selamanya. Beberapa menit yang
lalu aku menonton sebuah video di Youtube nya Dr. Jiemi Ardian. Salah seorang
Psikiater di Indonesia. Sebagai mahasiswa Psikologi yang mungkin bisa dibilang
masih abal-abal. Tunggu…… Bukan karena kampus nya yang abal-abal, tapi aku nya
saja yang mungkin bisa dikatakan jauh dari pemahaman mengenai psikologi. Namun
meski demikian, dalam menjalani kehidupan tentunya aku melihat banyak hal
menggunakan kacamata psikologi. Seperti dalam melewati masa berduka ini. Emmm….Ralat.
Maksudku seperti dalam merawat duka ini.
Dalam Youtube nya Dr. Jiemi Ardian yang ku tonton tadi,
beliau jelasin kalo berduka itu bukan sebuah kesalahan. Nggak ada tenggat waktu
untuk seseorang yang berduka, karena berduka itu bukan sebuah kesalahan atau
hal yang harus disembuhkan. Berduka juga bukan ajang perlombaan yang siapa
paling cepat selesai sedihnya adalah yang paling tinggi nilanya. Kalau kita
berduka, ya sudah berduka saja. Terima semua perasaan apapun itu yang kita
rasakan. Gapapa kok kalau kita mau nangis satu jam, dua jam atau mungkin
seharian. Nggak ada kesalahan dalam berduka yang penting kita tetap bisa
bertahan menjalani kehidupan yang kita punya. Dan tidak memberi tumpukan
penderitaan lagi untuk diri kita.
Kalau dalam ilmu psikologi seperti yang dijelaskan Dr.
Jiemi Ardian, perasaan sakit setelah kehilangan orang tersayang pergi
selama-lamanya itu adalah sebuah rasa sakit yang disebut Pain.
Dan tumpukan rasa sakit yang berasal dari luar atau dari diri kita sendiri
setelah rasa sakit (Pain) tadi disebut Penderitaan (Suffering). Suffering
ini mebuat pain yang kita rasakan bertumpuk menjadi semakin sakit.
Jadi rasa sakitnya double. Yang awalnya Pain, jadinya Pain
+ Pain. Masalahnya yang double ini rasa sakit, bukan dapat makanan yang
buy one get one free kayak di Indomaret. Hmm… balik lagi ke Pain
dan Suffering tadi. Misalnya Suffering yang berasal
dari orang lain yaitu, saat kita sedang berduka ditinggal orang tua dan
merasakan pain, kemudian ada salah seorang mengatakan kepada
kita, “Udah jangan nangis nggak baik orang udah pergi ditangisi”. Alih-alih
menenangkan justru kalimat tadi itu semakin memberikan pain buat
kita yang udah ngerasain pain yang akhirnya jadi penderitaan (suffering)
tadi. Coba aja bayangkan ada orang yang ditinggal pergi orang tersayang lalu
kita nggak boleh nangis karena orangnya udah meninggal. Logikanya karena kita
udah ditinggal selama-lamanya makanya kita nangis, sebagai bentuk ekspresi kalau
kita lagi sedih. Aneh. Tapi disisi lain aku tidak bisa menghakimi. Mungkin di
Negara kita yang semakin nggak karuan ini, menerima, merasakan, dan memproses
emosi yang kita miliki adalah hal yang masih tabu. Mungkin beberapa dari mereka
mengatakan kalimat jangan menangis tadi berniat baik supaya kita lebih tenang.
Namun perlu kita sadari menangis pada saat kita bersedih adalah pengekspresian
emosi yang merupakan bagian dari proses penerimaan kenyataan. Sehingga stress
yang ada dalam diri kita bisa kita lepasakan, karena kalau nggak dilepaskan suatu
saat bisa jadi bom yang bisa meledak kapan saja.
Oke lanjut. Kalau suffering
yang berasal dari diri kita sendiri itu saat kita sedang berduka dan merasakan
sakit yang disebut pain, kita tambah lagi rasa pain
tadi dengan rasa pain lagi yang akhirnya jadi suffering.
Tapi yang nambahin itu diri kita sendiri. Misalnya kita sedang berduka kita
ngerasin Pain, lalu kita nyalahin diri kita sendiri “kenapa waktu
itu aku nggak gini, kenapa waktu itu aku nggak gitu”. Bukannya menyembuhkan
justru kalimat tadi semakin membuat diri kita merasakan penderitaan (Suffering).
Kepergian seseorang bukan kesalahan kita, itu adalah garis takdir Tuhan. Itu
kalimat yang diucapkan oleh salah seorang temanku saat aku sedang memberikan
penderitaan kepada diriku saat itu. Saat aku lelah karena berhari-hari menagis,
ada salah satu temanku yang juga mengatakan hal baik. Katanya, perasaan sedih
kita ditinggal orang yang paling kita sayangi itu valid. Apa yang kita rasakan
itu tidak salah. Mau menangis sampai kapanpun silahkan saja yang terpenting
kita tetap bisa menjalani kehidupan yang kita punya dan tidak mengurangi porsi
doa untuk mereka yang sudah pergi. Karena proses berduka setiap orang itu
berbeda-beda.
Kalau dalam psikologi, berduka itu jatuh cinta yang
kehilangan objeknya. Setelah kehilangan orang tersayang, kita akan berduka
seumur hidup. Kedukaan akan kita rasakan
selama-lamanya, tapi seiring berjalanya waktu perasaan sakit dari duka yang
kita rasakan, akan bisa kita tanggung dan kita bawa bersamaan dengan kehidupan
yang kita Jalani. Seperti itu. Oke. Mungkin sampai disini dulu saya menulis,
besok-besok lagi kalau nggak ngantuk. Terima kasih untuk teman-teman yang
meluangkan waktu dan pikiran untuk membaca tulisan saya yang apa adanya ini.
Semoga kalian berbahagia dan sehat selalu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar