Minggu, 13 April 2025

Biarkan yang Berduka untuk Berduka Seumur hidup

 

Biarkan yang Berduka untuk Berduka Seumur hidup



 

Hari ini adalah 2 bulan Ibu berpulang ke-pangkuan Tuhan. Kedukaan masih menyelimuti hari-hariku. Senormalnya orang berduka, aku masih sering menangis. Entah hanya sekedar melihat minuman botol yang mungkin bagi beberapa orang tidak memiliki arti, atau hanya sekedar memakan buah. Apapun itu aku masih berduka, dan akan berduka selamanya. Beberapa menit yang lalu aku menonton sebuah video di Youtube nya Dr. Jiemi Ardian. Salah seorang Psikiater di Indonesia. Sebagai mahasiswa Psikologi yang mungkin bisa dibilang masih abal-abal. Tunggu…… Bukan karena kampus nya yang abal-abal, tapi aku nya saja yang mungkin bisa dikatakan jauh dari pemahaman mengenai psikologi. Namun meski demikian, dalam menjalani kehidupan tentunya aku melihat banyak hal menggunakan kacamata psikologi. Seperti dalam melewati masa berduka ini. Emmm….Ralat. Maksudku seperti dalam merawat duka ini.

Dalam Youtube nya Dr. Jiemi Ardian yang ku tonton tadi, beliau jelasin kalo berduka itu bukan sebuah kesalahan. Nggak ada tenggat waktu untuk seseorang yang berduka, karena berduka itu bukan sebuah kesalahan atau hal yang harus disembuhkan. Berduka juga bukan ajang perlombaan yang siapa paling cepat selesai sedihnya adalah yang paling tinggi nilanya. Kalau kita berduka, ya sudah berduka saja. Terima semua perasaan apapun itu yang kita rasakan. Gapapa kok kalau kita mau nangis satu jam, dua jam atau mungkin seharian. Nggak ada kesalahan dalam berduka yang penting kita tetap bisa bertahan menjalani kehidupan yang kita punya. Dan tidak memberi tumpukan penderitaan lagi untuk diri kita.

Kalau dalam ilmu psikologi seperti yang dijelaskan Dr. Jiemi Ardian, perasaan sakit setelah kehilangan orang tersayang pergi selama-lamanya itu adalah sebuah rasa sakit yang disebut Pain. Dan tumpukan rasa sakit yang berasal dari luar atau dari diri kita sendiri setelah rasa sakit (Pain) tadi disebut Penderitaan (Suffering). Suffering ini mebuat pain yang kita rasakan bertumpuk menjadi semakin sakit. Jadi rasa sakitnya double. Yang awalnya Pain, jadinya Pain + Pain. Masalahnya yang double ini rasa sakit, bukan dapat makanan yang buy one get one free kayak di Indomaret. Hmm… balik lagi ke Pain dan Suffering tadi. Misalnya Suffering yang berasal dari orang lain yaitu, saat kita sedang berduka ditinggal orang tua dan merasakan pain, kemudian ada salah seorang mengatakan kepada kita, “Udah jangan nangis nggak baik orang udah pergi ditangisi”. Alih-alih menenangkan justru kalimat tadi itu semakin memberikan pain buat kita yang udah ngerasain pain yang akhirnya jadi penderitaan (suffering) tadi. Coba aja bayangkan ada orang yang ditinggal pergi orang tersayang lalu kita nggak boleh nangis karena orangnya udah meninggal. Logikanya karena kita udah ditinggal selama-lamanya makanya kita nangis, sebagai bentuk ekspresi kalau kita lagi sedih. Aneh. Tapi disisi lain aku tidak bisa menghakimi. Mungkin di Negara kita yang semakin nggak karuan ini, menerima, merasakan, dan memproses emosi yang kita miliki adalah hal yang masih tabu. Mungkin beberapa dari mereka mengatakan kalimat jangan menangis tadi berniat baik supaya kita lebih tenang. Namun perlu kita sadari menangis pada saat kita bersedih adalah pengekspresian emosi yang merupakan bagian dari proses penerimaan kenyataan. Sehingga stress yang ada dalam diri kita bisa kita lepasakan, karena kalau nggak dilepaskan suatu saat bisa jadi bom yang bisa meledak kapan saja.

          Oke lanjut. Kalau suffering yang berasal dari diri kita sendiri itu saat kita sedang berduka dan merasakan sakit yang disebut pain, kita tambah lagi rasa pain tadi dengan rasa pain lagi yang akhirnya jadi suffering. Tapi yang nambahin itu diri kita sendiri. Misalnya kita sedang berduka kita ngerasin Pain, lalu kita nyalahin diri kita sendiri “kenapa waktu itu aku nggak gini, kenapa waktu itu aku nggak gitu”. Bukannya menyembuhkan justru kalimat tadi semakin membuat diri kita merasakan penderitaan (Suffering). Kepergian seseorang bukan kesalahan kita, itu adalah garis takdir Tuhan. Itu kalimat yang diucapkan oleh salah seorang temanku saat aku sedang memberikan penderitaan kepada diriku saat itu. Saat aku lelah karena berhari-hari menagis, ada salah satu temanku yang juga mengatakan hal baik. Katanya, perasaan sedih kita ditinggal orang yang paling kita sayangi itu valid. Apa yang kita rasakan itu tidak salah. Mau menangis sampai kapanpun silahkan saja yang terpenting kita tetap bisa menjalani kehidupan yang kita punya dan tidak mengurangi porsi doa untuk mereka yang sudah pergi. Karena proses berduka setiap orang itu berbeda-beda.

Kalau dalam psikologi, berduka itu jatuh cinta yang kehilangan objeknya. Setelah kehilangan orang tersayang, kita akan berduka seumur hidup. Kedukaan  akan kita rasakan selama-lamanya, tapi seiring berjalanya waktu perasaan sakit dari duka yang kita rasakan, akan bisa kita tanggung dan kita bawa bersamaan dengan kehidupan yang kita Jalani. Seperti itu. Oke. Mungkin sampai disini dulu saya menulis, besok-besok lagi kalau nggak ngantuk. Terima kasih untuk teman-teman yang meluangkan waktu dan pikiran untuk membaca tulisan saya yang apa adanya ini. Semoga kalian berbahagia dan sehat selalu.

Tidak ada komentar:

Menghadapi Patah Hati

  Salah satu patah hatinya rakyat indonesia melihat petinggi-petinggi negara Setelah berbulan-bulan tidak menulis, aku memutuskan untuk menu...